Sabtu, 02 Februari 2013

Motivasi Belajar


BAB II
PEMBAHASAN
MOTIVASI BELAJAR

1    Pengertian motivasi belajar
            
              Motivasi berasal dari bahasa Latin, movere yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi.
            Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing, namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Mc.Donald mengatakan bahwa”motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions” motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamalik,1992: 173) perubahan enegi dalam diri seseorang itu terbentuk suatu aktivitas nyata berupa fisik. Karena seseorang menpunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
Motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kea rah tujuan (Walgito, 2004: 220). Sedang menurut Plotnik (2005: 328), motivasi mengacu pada berbagai factor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.
Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985).
 Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas balajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya.segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang  tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Maslow (1943, 1970)sangat percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu,seperti kebutuhan fisiologis,rasa aman, rasa cinta, penghargaan, aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti dan kebutuhan estetik.
      Seseorang yang melakukan aktivitas balajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar, namun seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstinsik yang diharapkan. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi intrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar.[1]

2.   macam-macam motivasi
            Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.[2]Tugas guru adalah  membangkitkan motivasi siswa sehingga dia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1.   Motivasi instrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibaca. Motivasi instrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktifitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi instrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, dan ahli dalam satu bidang tertentu.
2. Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dari fungsinya karena adanya perangsang dari luar. Misalnya seseorang itu belajar, karena tau besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh temannya. Hal ini bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting.[3] Pada orang yang tingkat motivasi instrinsiknya rendah, justru motivasi ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik yang diberikan secara tepat, secara perlahan dapat mencangkokkan motivasi instrinsik telah untuk belajar manakala belajar yang direkayasa dengan motivasi ekstrinsik telah menjadi kebiasaan bagi siswa. Bahkan kalau sudah sampai ditahap pada kenyataannya anak tidak sama, temasuk motivasinya. Ketidaksamaan dalam motivasi ekstrinsik. Pengelolaan kelas yang baik, sikap guru hangat dan antusias serta pemberian penghargaan dan penguatan anak melakukan atau mencapi prestasi belajar yang memuaskan adalah salah satu bentuk dari motivasi prestasi ekstrinsik.[4]

3.  Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar

Slameto dalam bukunya Belajar Mengajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya menyebutkan ada beberapa hal yang membangkitkan motivasi siwa, sebagai berikut.
1. Menggairahkan Siswa
Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Guru harus memberikan pada siswa cukup banyak hal-hal yang perlu  dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi pelajaran. Discovery Learning dan metode sumbang saran (Brain Storming) memberikan kebebasan semacam ini. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa, guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal siswa-siswanya.
2.  Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis, dan memodifikasikan harapan-harapan yang tidak realistis. Untuk ini pengajar perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis siswa pada masa lalu, dengan demikian pengajar dapat membedakan antara harapan realistis, pesimistis, atau terlalu optimis. Bila siswa telah banyak mengalami kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan pada siswa.
3.  Memberikan Insentif
Bila siswa mengalami keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah pada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik, dsb) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Sehubungan dengan hal ini umpan balik merupakan hal yang sangat berguna untuk meningkatkan usaha siswa.
4.   Mengarahkan prilaku anak didik, dengan cara menunjukkan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta pada mereka melakukan sebaik-baiknya.[5]
Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas sebagaimana dikemukakan oleh Brown yang dikutip oleh Ali Imran dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran, bahwa:Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh; tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan; mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru; ingin selalu bergabung dalam kelas; ingin identitas dirinya diakui oleh oaring lain; tindakan, kebiasaan moralnya selalu dalam kontrol diri; selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali dan selalu terkontrol oleh lingkungannya.
      Sardiman juga mengemukakan pendapat yang masih dikutip oleh Ali Imran dalam buku Belajar dan Pembelajaran bahwa Ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama, ulet menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar; lebih suka bekerja sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain; tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin; dapat mempertahankan pendapatnya; tidak mudah melepaskan apa yang diyakini; senang mencari dan memecahkan masalah.
             Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk siswa. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku siswa. Ada tiga komponen dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.
Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Sardiman AM. Menjelaskan bahwa ada beberapa cara yang harus ditempuh dalam mengarahkan dan menumbuhkan motivasi dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:
  Memberi Angka                                                               
Angka adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
 Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, ranking satu, dua, atau tiga dari anak didik lainnya. Pemberian hadiah bisa juga diberikan dalam bentuk beasiswa atau dalam bentuk lain seperti alat tulis. Dengan cara itu anak didik akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan prestasi belajar yang telah mereka capai.
  Kompetisi
      Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah dalam belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, setiap anak didik sebagai individu melibatkan diri mereka mesing-masing ke dalam aktivitas belajar.
  Ego-Involvement
      Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
  Memberi Ulangan
      Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Namun demikian, ulangan tidak selamanya dapat digunakan sebagai alat motivasi. Ulangan yang guru lakukan setiap hari dengan tidak terprogram, akan membosankan anak didik. Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis.
  Mengetahui Hasil
     Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mangalami kemajuan, anak didik berusaha untuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari atau pada semester atau catur wulan berikutnya.

  Pujian
      Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap guru, tetapi merupakan figur yang disenangi dan dikagumi.
  Hukuman
      Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang. Oleh karena itu, hukuman hanya diberikan oleh guru dalam konteks mendidik seperti memberikan hukuman berupa membersihkan kelas, menyiangi rumput di halaman sekolah, membuat resume atau ringkasan, atau apa saja dengan tujuan mendidik.
  Hasrat untuk Belajar
      Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah pasti hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tidak berhasrat untuk belajar. Diakui, hasrat untuk belajar adalah gejala psikologis yang tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan dipelajarinya. Kebutuhan itulah yang menjadi dasar aktivitas anak didik dalam belajar. Tidak ada kebutuhan berarti tidak ada hasrat untuk belajar. Itu sama saja tidak ada minat untuk belajar.
  Minat
      Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu sacara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
  Tujuan yang Diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan terima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting, sebab dengan memahami tujuan yang harus dipakai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.[6]
  
4. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sedikit pun tidak bergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan.
Fungsi motivasi dalam belajar akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:
   Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Oleh karena itu, motivasi mempunyai fungsi sebagai pendorong perbuatan siswa.
   Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap siswa merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik yang berfungsi sebagai penggerak perbuatan siswa. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dan hukum. Sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat berfungsi sebagai penggerak perbuatan.
   Motivasi sebagai pengarah perbuatan                     
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus diabaikan. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi pada anak didik dalam belajar. Segala sesuatu yang menggangu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.
  Secara umum peranan motivasi dalam setiap aktifitas manusia termasuk didalamnya aktifitas siswa dalam belajar yang dikemukakan oleh Sardiman A.M. sebagai berikut:
1.   Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari kegiatan yang akan dikerjakan.
2.   Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.    Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbautan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuannya.
Dengan demikian motivasi memegang peranan yang penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Namun motivasi belajar tidak hanya memberikan kekuatan pada daya upaya belajar tetapi juga memberikan arah yang jelas.
            Dalam kegiatan belajar motivasi menduduki peranan yang sangat penting. Karena dapat dikatakan motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiaran belajar sehingga siswa dapat mencapai tujuan dalam pembelajaran.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan mengenai motivasi, maka dapat dilihat bahwa motivasi mengandung 3 unsur yang saling terkait, yaitu:
1). Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam diri.
2). Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan.
3). Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya ada kesamaan yakni motivasi sebagai suatu dorongan yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas yang nyata untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran motivasi akan mendorong siswa untuk giat belajar. Lain halnya dengan siswa yang tidak termotivasi untuk belajar besar kemungkinan kegiatan belajarnya kurang terarah dan malas dalam belajar, sehingga hasil belajarnya juga kurang memuaskan jadi, motivasi sangat diperluakan sebagai pendorong dan perangsang yang sifatnya mengarahkan dan menggiatkan kegiatan belajar yang terarah untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

5. Prinsip-Prinsip motivasi

Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut:
1. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar
     Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentang waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.
2. motivasi intrinsik libih utama dari pada motivasi ekstrinsik dalam belajar.
      Dari seluruh kebijakan pengajaran,guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada setiap anak didik.tidak pernah ditemukan guru tidak memakai motivasi ekstrinsik dalam pengajaran. Anak didik yang malas belajar sangat berpotensi untuk memberikan motivasi ekstrinsik oleh guru supaya dia rajin belajar.
Anak didik yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit terpengaruh dari luar, semangat belajarnya sangat kuat, dia belajar bukan karena ingin mendapatkan nilai yang tinggi, mengharaokan pujian orang lain atau mengharapkan hadiah berupa benda,tetapi karena ingin memperoleh ilmu yang sebanyak-banyaknya.tanpa diberikan janji-janji pun anak didik rajin belajar sendiri, perintah tak diperlukan karena tanpa diperintah anak sudah taat pada jadwal belajar yang dibuatnya sendiri, self study adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan belajar anak didik yang memiliki motivasi intrinsik.
3. Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman
      Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian, setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apa pun juga,memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain, hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk libih meningkatkan prestasi kerjanya,tetapi pujian yang diucap itu tidak asal ucap, harus pada tempatnya dan kondisi yang tepat, kesalahan pujian bisa bermakna mengejek.
Berbeda dengan pujian, hukuman diberikan kepada anak didik dengan tujuan untuk memberhentikan perilaku negatif anak didik. Frekuensi kesalahan diharapkan lebih diperkecil setelah kepada anak didik diberi sanksi berupa hukuman, hukuman badan seperti yang sering diberlakukan dalam pendidikan tradisional tidak dipakai lagi, dalam pendidikan modern sekarang, karena hal itu tidak mendidik, hukuman yang mendidik adalah hukuman sanksi dalam bentuk penugasan meringkas mata pelajaran tertentu, menghapal ayat-ayat al quran, membersihkan halaman sekolah dan sebagainya.
4. motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
      Kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu anak didik belajar, karena bila tidak belajar berarti anak didik tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan
5. motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar
     Siswa yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan    setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa belajar bukan kegiatan yang sia-sia. Hasilnya      akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga di hari mendatang.
6. motivasi melahirkan prestasi dalam belajar,Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar, tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang anak didik,[7]





                                                                           BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP

A. Kesimpulan

motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamalik,1992: 173) perubahan enegi dalam diri seseorang itu terbentuk suatu aktivitas nyata berupa fisik. Karena seseorang menpunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
       Motivasi berasal dari dalam diri pribadi seseorang ( intrinsik ),dan berasal dari luar diri seseorang (ekstrinsik ).
Fungsi motivasi dalam belajar: sebagai pendorong,penggerak,dan pengarah perbuatan.
            Upaya meningkatkan motivasi belajar diantaranya: menggairahkan anak didik,memberikan harapan realistis,memberikan insentif,mengarahkan prilaku anak didik. beberapa cara yang harus ditempuh dalam mengarahkan dan menumbuhkan motivasi dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:Memberi Angka,hadiah,kompetisi, ego-involvement, pujian, mengetahui hasil,minat,dll.

B. Penutup
       Demikian makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah pengetahuan kita tentang dasar-dasar pendidikan Islam, dan tentunya makalah yang kami buat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran dari teman-teman sangat dan sungguh kami harapkan. Terima kasih. 



                                                           DAFTAR PUSTAKA

Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta : Rajawali Pers, 1992 )
Drs. Achmad Rifa’i RC. M.Pd, dkk, Psikologi Pendidikan, (Semarang: Universitas Negeri Semarang Press, 2009
Drs.Syaiful Bahri Djamarah,psikologi belajar edisi2(Jakarta,renika cipta,2008)
            Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :  Rineka Cipta.


[1] Drs.Syaiful Bahri Djamarah,psikologi belajar edisi2(Jakarta,renika cipta,2008)h.149

[2] Ibid., h.87
[3] Opcit., h.90.
[4] Ali Imran , Psikologi Pendidikan, (Semarang: Universitas Negeri Semarang Press, 2009) h.90
.
[5] .Slameto 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :  Rineka Cipta.  h. 175-176.

[6] Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, ( Jakarta : Rajawali Pers, 1992 ) h. 94

[7] Drs.Syaiful Bahri Djamarah,psikologi belajar edisi2(Jakarta,renika cipta,2008)h.152-155

Tujuan Pendidikan Islam


                                                                           BAB 1
                                                                  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
       
      Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunayi arti apa-apa. Ibarat seseorang yang berpergian tak tentu arah maka hasilnya pu tak  lebih dari pengalaman selama perjalanan.
    Pendidikan merupakan uasaha yang dilakukan secara sadar dan jelas memiliki tujuan. Sehingga diharapkan dalam penerapanya ia tak kehilangan arah dan pijakan . Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam pendidikan. Sebab, tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, perbuatan menjadi acak-acakan, tanpa arah, bahkan biasa sesat atau salah langkah, oleh karena itu perumusan tujuan dengan jelas, menjadi inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofis
Dikatakan lebih lanjut bahwa tujuan pendidikan itu penting, disebabkan karena secara implisit dan eksplisit didalamnya terkandung hal-hal yang sangat asasi, Yaitu pandangan hidup dan filsafat hidup pendidikan, Lembaga penyelenggaraan pendidikan, dan Negara, dimana pendidikan itu dilaksanakan.



                                                                         BAB II
                                                                 PEMBAHASAN

A. Pengertian Tujuan Pendidikan Islam
       
      Secara etimologi, tujuan adalah’arah, maksud atau haluan.[1] Dalam bahasa arab “ tujuan” diistilahkan dengan ‘ ghayat, ahdaf, atau maqashid. Sementara  dalam bahasa inggris di           istilahkan dengan“goal,purpose,objectives atau aim”.
        Secara termonologi, Menurut Zakiah Daradjat Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai[2]. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi "insan kamil" dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT
       Menurut H.M.Arifin tujuan pendidikan islam adalah idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai islam yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkanajaran Islam secara bertahap.[3]
       Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan,serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Disamping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.[4]    
       Tujuan pendidikan Islam adalah "suatu istilah untuk mencari fadilah, kurikulum pendidikan islam berintikan akhlak yang mulia dan mendidik jiwa manusia berkelakuan dalam hidupnya sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaan yakni kedudukan yang mulia yang diberikan Allah Smelebihi makhluk-makhluk lain dan dia diangkat sebagai khalifah.

B. Tujuan Pendidikan Islam
       Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mencapai suatu tujuan, tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan dibawa. Tujuan pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah SWT agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya.
       Secara umum, tujuan pendidikan islam terbagi kepada: tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan operasional. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia sempurna setelah ia menghabisi sisa umurnya. Sementara tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.                 
            Hasan Langgulung memberikan uraian tentang tujuan pendidikan Islam yang dibagi menjadi tujuan akhir, tujuan umum dan tujuan khusus.
A.  Tujuan Akhir Pendidikan Islam
            Dalam proses kependidikan tujuan akhir merupakan tujuan yang tertinggi yang akan dicapai pendidikan Islam, tujuan terakhirnya merupakan kristalisasi nilai-nilai idealitas Islam yang diwujudkan dalam pribadi anak didik. Maka tujuan akhir itu harus meliputi semua aspek pola kepribadian yang ideal.
            Dalam konsep Islam pendidikan itu berlangsung sepanjang kehidupan manusia, dengan demikian tujuan akhir pendidikan Islam pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sabagai makhluk ciptaan Allah dan sebagi kholifah di bumi.
Sebagaimana diungkapkan Hasan Langgulung bahwa “segala usaha untuk menjadikan manusia menjadi ‘abid inilah tujuan tertinggi pendidikan dalam Islam”.[5]   
 Sebagaimana firman Allah SWT :
وما خلقت الجنّ والإ نس الاّ ليعبدون.
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(Q.S.Adz-Dzariyat :56)[6]
Menjadi ‘abid merupakan perwujudan dari kepribadian muslim, sehingga apabila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah berarti ia telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan hidup di dunia dan membahagiakan di akhirat, inilah tujuan pendidikan Islam yang tertinggi.
B. Tujuan Umum Pendidikan Islam
            Yang dimaksud dengan tujuan umum pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah perubahan-perubahan yang dikehendaki serta diusahakan oleh pendidikan untuk mencapainya, yang bersifat lebih dekat dengan tujuan tertinggi tetapi kurang khusus jika dibandingkan dengan tujuan khusus[7]
Dalam memberikan rumusan tujuan umum pendidikan Islam ini, Hasan Langgulung tidak mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai hal ini namun beliau mengutip beberapa pendapat dari tokoh-tokoh pendidikan Islam seperti Al-Abrasyi, An-Nahlawi, Al- Jawali, rumusan ini sebagaimana dituliskan dalam bukunya Hasan Langgulung “Manusia dan Pendidikan” sebagai berikut :
Al-Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu :
1.     Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia.
2.     Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
3.     Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat.
4.     Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keingin tahuan (curiosity) dan memungkinkan ia menggali ilmu demi ilmu itu sendiri.
5.     Menyiapkan pelajar dari segi profesional, tekhnikal dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu, dan ketrampilan pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam hidup di samping memelihara segi kerokhanian dan keagamaan.[8]
Nahlawi menujukkan empat tujuan umum pendidikan Islam, yaitu :
1.     Pendidikan akal dan persiapan fikiran.
2.     Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak-anak.
3.     Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik laki-laki maupun perempuan.
4.     Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi dan bakat-bakat manusia.
Al-Jamali menyebutkan tujuan-tujuan pendidikan yang diambilnya dari Al-Qur’an sebagai berikut :
1.     Mengenalkan menusia akan perananya diantara sesama  manusia dan   tanggung jawab pribadinya di dalam hidup ini.
2.     Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya     dalam tata kehidupan.
3.     Mengenalkan manusia akan alam ini mengajak mereka memahami hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk dapat mengambil manfaat dari alam tersebut.                                                                                                                                                                                         
4.     Mengenalkan manusia akan terciptanya alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.[9]
            Empat tujuan tersebut saling terkait, tetapi tiga tujuan pertama merupakan jalan ke arah tujuan yang terakhir yaitu mengenal Allah dan bertaqwa kepada Allah.
Dari Uraian tersebut dapat diambil suatu pemahaman bahwa Hasan Langgulung sependapat dengan pemikiran para tokoh yang diajukannya tersebut mengenai rumusan tujuan umum pendidikan Islam. Dan pada dasarnya dari uraian para tokoh tersebut dapat diambil suatu gambaran umum tentang tujuan ini yaitu :
1.     Pembentukan akhlak yang mulia.
2.     Untuk persiapan kehidupan dunia dan akhirat.
3.     Untuk menumbuhkan dan menyiapkan potensi-potensi insani.
4.     Untuk mempersiapkan peserta didik dalam bidang profesional dan ketrampilan.
5.     Memperkenalkan manusia akan posisinya, dan hubungan sosialnya, serta dengan alamnya.
6.     Mengenalkan manusia akan keberadaan Allah.
C.      Tujuan Khusus Pendidikan Islam
            Tujuan khusus pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah “perubahan-perubahan yang diingini dan merupakan bagian yang termasuk di bawah tiap tujuan umum pendidikan Islam”.[10]
            Menurut beliau tujuan khusus pendidikan Islam ini tergantung pada institusi pendidikan tertentu, pada tahap pendidikan tertentu, pada jenis pendidikan tertentu, serta tergantung pada masa dan umur tertentu. Bila tujuan akhir pendidikan Islam adalah bersifat mutlak dan tidak bisa berubah, maka dalam tujuan khusus pendidikan Islam masih dapat berubah.
            Meskipun tujuan pendidikan ini tidak bersifat mutlak dan masih dapat berubah, akan tetapi dalam pelaksanaannya tetap berpegang pada tujuan akhir dan tujuan umum pendidikan Islam. Dengan kata lain gabungan dari pengetahuan, ketrampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan tujuan umum pendidikan Islam, tanpa terlaksananya tujuan khusus ini, maka tujuan akhir dan tujuan umum juga tidak akan terlaksana dengan sempurna.
·         Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah mengatakan dalam bukunya:” Educational Theory a quran qutlook”, bahwa pendidikan islam bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah swt. Atau sekurang-kurangnya mempersiapkan kejaln yang mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada-Nya. Tujuan pendidikan islam menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dibangun atas tiga komponen sifat dasar manusia yaitu : tubuh, ruh dan akal. Yang masing-masing harus dijaga[11]
·         menurut M. Djunaidi Dhany, sebagaimana dikutip oleh Zainudin dkk.,adalah sebagai berikut:
a.   pembinaan anak didik yang sempurna.      
1.  pendidikan harus mampu membentuk kekuatan dan kesehatan badan            serta pikiran  anak didik.
2. sebagai anak individu, maka anak harus dapat mengembangkan          kemampuanya semaksimal mungkin.
3.  angota maysarakat, anak harus dapat memiliki tanggung jawab          sebagai warga negara.
4.  sebagi pekerja, anak harus bersifat efektif dan produktif erta cinta     akan kerja.
b.  peningkatan moral, tingkah laku yang baik dan menanamkan rasa      kepercayaan anak terhadap agama dan kepada Tuhan.
c.  mengembangkan intelegensi anak secara efektif agar mereka siap       untuk mewujudkan kebahagiaanya dimasa mendatang.[12]
·         menurut Omar Mohamad Al- Toumy al- Syaibany, tujuan pendidikan mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. tujuan individual
       tujuan ini berkaitan dengan masing-masing individu dalam mewujudkan perubahan yang diinginkan pada tingkah laku dan aktivitasnya, disamping untuk mempersiapkan mereka dapat hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat.
b. tujuan Sosial
        tujuan ini berkaitasn dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan dan tingkah laku mereka secara umum, di samping juga berkaitan dengan perubahan dan pertumbuhan kehidupan yang diinginkan serta memperkaya pengalaman dan kemajuan.
c. tujuan profesional
       tujuan ini berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai sebuah ilmu, sebgai seni, dan sebagi profesi serta sebagai satu aktivitas diantara aktivitas masyarakat.[13]
·         Al Buthi, beliau menyebutkan tujuh macam tujuan umum pendidikan sebagaimanaberikut: :
1) Mencapai keridlaan Allah, menjauhi murka dan siksa-Nya dan            melaksanakan pengabdian yang tulus ikhlas kepada-Nya. Tujuan ini        dianggap induk dari segala tujuan pendidikan Islam.
2)  Mengangkat taraf akhlak dalam masyarakat berdasar pada agama      yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang    diridhaioleh-Nya.
3)  Memupuk rasa cinta terhadap tanah air pada diri manusia berdasar    pada agama     yang diturunkan untuk membimbing masyarakat    kearah  yang    diridhaioleh-Nya
4)  Memupuk rasa cinta terhadap tanah air pada diri manusia berdasar    pada agama dan ajaran-ajaran yang dibawanya, begitu juga mengajar   manusia kepada nilai-  nilai     dan akhlak yang mulia.
5)  Mewujudkan ketentraman dalam jiwa dan akidah yang dalam,          penyerahan dan kepatuhan yang ikhlas pada Allah.
6)   Memelihara bahasa dan kesusastraan Arab sebagai Bahasa Al Quran,           dan sebagai wadah kebudayaan dan unsur-unsur kebudayaan Islam            yang paling menonjol, menyebarkan kesadaran Islam yang   sebenarnya dan menunjukkan hakikat agama atas kebersihan dan       kecemerlangannya.
7)  Meneguhkan perpaduan tanah air dan menyatukan barisan melalui     usaha menghilangkan perselisihan, bergabung dan kerja sama dalam   rangka prinsip-prinsip dan kepercayaan Islam yang terkandung        dalam  Al-Quran         dan      As-Sunnah.

·         Achmadi membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tiga yaitu tujuan tertinggi, tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun perinciannya sebagai berikut :
a.   Tujuan tertinggi atau tujuan terakhir pendidikan Islam ini pada          akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan perananya      sebagai ciptaan Allah, yaitu :
1.     Menjadi hamba Allah yang paling takwa.
2.     Mengantar subyek didik menjadi khalifatul fil ard.
3.    Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia         sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat.
 b.  Tujuan umum pendidikan Islam berfungsi sebagai arah, taraf             pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap,        perilaku dan kepribadian subyek didik. Adapun tujuan umum          pendidikan Islam yang dimaksud adalah berupa tercapainya   kepribadian muslim yang utuh yaitu terpadunya pikir, zikir   dan amal            pada pribadi seseorang
Hal ini menurut Achmadi merupakan kunci utama untuk sampai pada tujuan tertinggi yaitu ma’arifatullah dan ta’abbudilallah.
c.   Tujuan Khusus pendidikan Islam, bersifat relatif sehingga     dimungkinkan untuk   diadakan perubahan dimana perlu sesuai            dengan tuntutan dan kebutuhan, selama        tetap berpijak pada      kerangka tujuan tertinggi dan tujuan utama. Pengkhususan            tujuan tersebut dapat didasarkan pada:
1.    Kultur dan cita-cita satu bangsa di mana pendidikan itu        diselenggarakan.
2.     Minat, bakat dan kesanggupan subyek didik.           
3.     Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu[14]

C. Ciri-Ciri Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan Pendidikan Islam Memiliki Ciri-Ciri Sebagai Berikut:
1.      Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2.      Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya dimuka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3.      Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4.      Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.
5.      Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.
6.      Tujuan pendidikan Islam adalah membina dan memupuk akhlakul karimah. sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

عن ابي هر يرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُ تَمِمَ مَكَا رِ مَ الْاَخْلاَقْ

Artinya:”Dari Abu Hurairah Radliyallahu 'Anhu (semoga Allah meridlainya) ia berkata, bahwa Rasulallah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda: "Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak (manusia)”.

D. Prinsip-Prinsip Dalam Formulasi Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan islam mempunyai prinsip-prinsip tertentu guna menghantar tercapainya tujuan pendidikan. Prinsip itu adalah:[15]
1.      Prinsip universal (syumuliyah). Prinsip yang memandang keseluruh aspek agama ( aqidah, ibadah dan ahklak, serta muamalah), manusia ( jasmani, rohani, dan nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagat raya dan hidup.
2.      Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun qaiatishadiyah) prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pada pribadi, berbagai kebutuhan individu serta tuntunan pemeliharaan kebudayaan, social, ekonomi, dan politik untuk menyelesaikan semua masalah dalam menghadapi tuntutan masa depan.
3.      Prinsip kejelasan (tabayun) prinsip yang didalamnya terdapat ajaran dan hokum yang member kejelasan terhadap kejiwaan manusia.
4.      Prinsip tak bertentangan. Prinsip yang didalamnya terdapat ketiadaan pertentangan berbagai unsure dan cara pelaksanaannya sehingga antara satu komponen dengan komponen yang lain saling mendukung.
5.      Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan.
6.      Prinsip perubahan yang di ingini.
7.      Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan individu.
8.      Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pelaku pendidikan serta lingkungan dimana pendidikan itu dilaksanakan.

E. Formulasi Tujuan Pendidikan Islam

Upaya dalam mencapai tujuan pendidikan harus dilaksanankan dengan semaksimal mungkin, walaupun pada kenyataannya manusia tidak mungkin menemukan kesempurnaan dalam berbagai hal.
Abd al-rahman shaleh abd allah dalam bukunya,Educational Theory a quran Outlook,[16] menyatakan tujuan pendidikan islam dapat diklarisifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu:
1.      Tujuan pendidikan jasmani
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas kholifah dibumi, melalui ketrampilan-ktrampilan fisik
2.      Tujuan pendidikan rohani
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada allah SWT semata dan melaksanakan moralitas yang ditaladani oleh Nabi SAW.
3.      Tijuan pendidikan akal
Pengarahan inteligensi untuk menemukan kebenaran sebab-sebabnya dengan talaah tanda-tanda kekuasaan allah dan menemukan pesan-pesan ayatnya yang berimplikasi kepada peningkatan iman kepada sang pencipta.
4.      Tujuan pendidikan sosial.
5.      Tujuan pendidikan sosial adalah pembentukan kepribadian yang utuh yang menjadi bagian komonitas sosial.

 




                                                       BAB III
                                     SIMPULAN DAN PENUTUP

A. Simpulan
       Tujuan pendidikan Islam adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah proses pendidikan berakhir. Tujuan ini diklasifikasikan kepada : tujuan umum, sementara, akhir dan operasional.
       Pendidikan menurut Zakiah Darajat, adalah sesuatu tujuan, yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin, tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada futuritas yang terletak pada suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai keculi dengan usaha melalui proses tertentu.As Syaibany, bahwa istilah tujuan dan ramalan mempunyai pengertian yang berbeda. Tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan, sedangkan ramalan adalah sesuatu yang diharapkan terjadinyaoleh institusi pendidikan.
       Abu Achmad mengatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi :
(1) Tujuan tertinggi/Terakhir,
(2) Tujuan Umum,
(3) Tujuan Khusus,
(4)TujuanSementara.

Formulasi tujuan pendidikan Islam itu meliputi empat hal, yaitu
1) tujuan jasmaniah (ahdaf al jismiyyah),
(2) tujuan rohaniah (ahdaf al Ruhiyyah),
(3) tujuan akal (ahdaf al Aqliyyah),
(4)  tujuan   sosial(ahdafal-Ijtima’iyyah).

B. Penutup           
       
Demikian makalah yang kami buat, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah pengetahuan kita tentang dasar-dasar pendidikan Islam, dan tentunya makalah yang kami buat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran dari teman-teman sangat dan sungguh kami harapkan. Terima kasih 
                                                            
                                                            DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Didaktik Metodik,Semarang: CV. Toha Putra, 1975.
Arifin, Ahmad,Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,Bandunng Remaja Rosda Karya, 1994, Cet. Ke-2
Arifin, Imran, Kepemimpinan Kiyai: Jakarta : Kalima Sahada Press, 1993Cet.1
Achmad, Abu, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan Yogyakarta, Aditya Media, 1992.
Abd. Ar Rahman, al Nahlawy, Usus at Tarbiyah al Islamiyah, wa thuruq Tadirisiha Damaskus: Daral Nahdhah al Arabiyah. 1965
Abdullah, Abdurrahman Saleh, Teori teori Pendidikan Berdasarkan al Quran. Jakarta, Rineka Cipta, 1990).
Athiyah M. al Abrasyi, Al Tarbiyah Al Islamiyah wa Falsafatuha Qahirah: al Babi al Halabi 1969).
Lengkulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan, Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta,Pustaka Al Husna, 1989).


[1] Departemen pendidikan dan kebudayaan,kamus besar bahasa indonesia ( jakarta:Balai Pustaka,1995), Edisi ke-2,cet,ke-4,h.1077
[2] Zakiyah Daradjat, dkk.,Ilmu Pendidikan Islam,(jakarta:bumi aksaradan Departemen Agama RI,1992),Cet.Ke-2,h.29
[3] H.M.Arifin,Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta: Bumi Aksara,1991) cet,1.h.224.
[4] Ahmad D.Marimba, pengantar filsafat pendidikan, ( Bandung: al-Ma’arif,1989 ),h.45-46
                                                                                                                    
[5] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1986, hal. 57
[6] Al-Qur’an, Surat Adz-Dzariyat Ayat 56, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsiran Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, 1989, hal. 862.
[7] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, ., hal. 59.

[8] Ibid, hal. 61.
[9] Ibid, hal 61-62.

[10] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Op. Cit., hal 63.

[11] Abdurrahman Saleh Abdullah,Tori-teori pendidikan berdasarkan al-quran(terj),H.M.Arifin dan Zainuddin,(jakarta:Bumi Aksara)
[12] Zainudin dkk.,seluk beluk pendidikan dari Al- Ghazali,(jakarta:Bumi Aksara,1991)Cet,1.h,49
[13] Omar Mohammad Al-Toumy AL-Syaibany,(terj)Hasan Langulung, falsafah Pendidikan Islam,(jakarta:Bbulan Biintang,1979,h.399)


[14] Achmadi,konsep pendidikan islam,(bandung,remaja rosdakarya) hal. 64
[15] Omar Mohammad Al-Toumy AL-Syaibany,(terj)Hasan Langulung, falsafah Pendidikan Islam,(jakarta:bulan bintang) h.120
[16] Abd al-rahman shaleh abd allah,teori-teori pendidikan berdasarkan al-quran,terj.Arifin HM,Judul asli: Educational Theory:a qur’ani outlook.(jakarta:rineka cipta,1991),h.138-153